11-02-2015
11:48 WIB
Perasaan ini sudah menjadi sejenis karang
Terlalu menahan hempasan gelombang
Milyaran kalipun dibuat seperti ini, aku masih ingin bertahan
Sesekali rasanya pedih
Tapi itu kalah dengan keyakinan
Bagaimana cinta bisa memiliki banyak syarat sedangkan hanya syarat "bertahan" yang harus dimiliki
Bagaimana cinta bisa memiliki tolok ukur sedangkan hati yang memandu
Aku merasa layaknya pohon yang ditinggalkan dedaunan
Layaknya bunga yang tak bertemu dengan air
Rapuh.. Layu..
Mengapa daun-daun itu gugur?
Aku tak ingin lembarannya yang baru karena yang gugur jauh berharga
Tetapi sayang...telah gugur
Mengapa air tak lagi menyapa?
Kering rasanya menunggu rintik kesejukannya
Sungguh...
Aku masih menetap di tempat yang sama
Masih menjadi pohon dan bunga
Menunggu arah takdirku untuk memilih salah satu perannya
Apa aku akan menjadi pohon yang ditemani lembaran daun yang baru atau tetap menunggu air kembali
Aku tak bisa terus menerus ditengah-tengah untuk berperan menjadi keduanya
Aku...tak tahu harus bagaimana
Hanya saja hati terus berteriak,"Aku ingin daun itu kembali.. Aku ingin air menemani lagi"
Keinginan hati yang masih sama
Masih memlilih "bertahan" sebagai kata favoritnya
Masih berbincang dengan waktu yang lalu
Masih meminta masa yang lalu
Karena menurut hati,"dia" bukan yang harus dilupakan tapi yang harus terus dipahami
Karena cinta bukan tentang mengungkit rasa sakit tapi bagaimana sakit itu akan sembuh jika tetap kuat bertahan
Bagaimana sakit itu akan sembuh karena "cinta yang pasti" datang mengobatinya
-Ulfah Hayati Baros-